Selamat Datang
facebooktrik

Terima Kasih telah berkunjung ke situs ini, semoga terhibur :D Bantu klik tombol "Like Button" ya supaya teman yang lain tahu Facebooktrik. Matur nuwun Terima Kasih

16 Juni 2010

Gaya Hidup Sehat Tidak Mencegah Pikun

img

Evanston, Anggapan yang berkembang adalah kepikunan bisa dicegah dengan mengubah gaya hidup, termasuk memilih pola makan yang sehat. Namun sebuah penelitian mengungkap, keduanya tidak saling berhubungan.

Temuan kontroversial ini merupakan hasil penelitian yang dilakukan U.S. National Institutes of Health. Penelitian ini menganalisis 165 studi terdahulu tentang faktor risiko yang menyebabkan alzheimer atau pikun.

Dikutip dari Healthday, Selasa (15/6/2010), faktor-faktor biologis, perilaku, sosial dan lingkungan memang terkait dengan risiko seseorang untuk mengalami pikun. Namun hubungannya dinilai sangat kecil sehingga tidak bisa ditarik kesimpulan.
Dr. Martha L. Daviglus dari Northwestern University yang memimpin penelitian itu mengatakan, salah satu faktor yang dipelajari adalah gaya hidup. Faktor yang dimaksud antara lain meliputi diet mediteranian, konsumsi asam lemak omega 3, olahraga dan mengisi waktu luang.

"Ada kaitan antara perubahan gaya hidup dengan penurunan risiko alzheimer, namun terlalu lemah untuk dianjurkan pada pasien sebagai langkah pencegahan," ungkap Dr. Martha.

Selain gaya hidup, beberapa faktor seperti obesitas, tekanan darah tinggi dan hiperkolesterolemia, serta depresi juga dinilai tidak memiliki hubungan yang meyakinkan dengan risiko alzheimer. menurut Dr. Martha, bukti yang ditemukan tidak cukup kuat untuk disimpulkan.

Bukti yang kuat hanya didapatkan pada perokok dan penderita diabetes. Menurut peneliti, hanya faktor-faktor tersebut yang dapat memperbesar risiko penurunan kemampuan kognitif.

Para ahli memberikan tanggapan yang berbeda terkait temuan ini. Dr. Sam Gandy dari Mount Sinai School of Medicine sepakat bahwa untuk memastikannya perlu diadakan uji klinis.

Sementara peneliti alzhimer dari University of California, Greg M. Cole menilai temuan ini terlalu pesimistis. Menurutnya banyak kesalahan dalam penelitian tersebut karena hanya didasarkan pada studi epidemologis, sehingga kesimpulannya kurang meyakinkan.

Laporan penelitian ini dimuat di jurnal Annals of Internal Medicine edisi 15 Juni 2010.

sumber : health.detik.com


Share

FeedGratis berlangganan artikel via RSS FEED

Anda juga bisa berlangganan artikel via email dengan cara masukkan email anda pada form dibawah lalu 'Subscribe'



0 komentar:

Poskan Komentar

Silahkan meninggalkan komentar tentang artikel ini melalui kolom dibawah. Jika identitas anda tidak ingin dipublikasikan silahkan menulis komentar sebagai Anonim. Terima kasih...

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Cheap Web Hosting